Perkembangan Bahasa Indonesia



 “ PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA ”



I.                  ASAL BAHASA INDONESIA
II.               FAKTOR – FAKTOR YANG MENDORONG BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NASIONAL

I.                   ASAL BAHASA INDONESIA
Bahasa Melayu merupakan akar dari bahasa Indonesia. Ketika Belanda singgah di Indonesia, bahasa Melayu pun digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal. Akhirnya, bahasa Melayu dan bahasa Belanda bersaing semakin ketat. Walaupun Gubernur Jenderal Roshussen telah mengusulkan bahasa Melayu untuk menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat, ada pihak-pihak yang gigih menolak bahasa Melayu di Indonesia.
 Van der Chijs, seorang berkebangsaan Belanda, menyarankan supaya sekolah memfasilitasi ajaran bahasa Belanda. JH Abendanon yang merupakan Direktur Departemen Pengajaran juga berhasil memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru pada 1900. Akhirnya, persaingan bahasa ini dimenangkan oleh bahasa Melayu.
Kemudian di Kongres Pemuda I tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk dikembangkan sebagai bahasa dan sastra Indonesia. Lalu pada Kongres Pemuda II 1928, Sumpah Pemuda mengikrakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan Indonesia.
Sebenarnya, bahasa Indonesia ini terbentuk dari beraneka ragam bahasa asing. Pada tahun 1999, Pusat Bahasa menerbitkan buku “Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia’ dan menyatakan bahwa terdapat 10 donor bahasa Indonesia, yakni Belanda, Inggris, Arab, Sanskerta, Jawa Kuna, China, Portugis, Tamil, Parsi/Persia, dan Hindi.
Asal bahasa
Jumlah kata
3.280 kata
1.610 kata
1.495 kata
677 kata
1109 kata
290 kata
131 kata
83 kata
63 kata
7 kata



Peristiwa-peristiwa penting
·     Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
·       Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertama kalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
·       Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
·    Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
·         Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
·      Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
·     Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
·      Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
·      Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
·   Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
·      Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
·      Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
·    Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
·     Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
·      Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
·     Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.



II.                FAKTOR YANG MENDORONG BAHASA INDONESIA MENJADI BAHASA NASIONAL
Sejak awal kemerdekaan, bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan karena di dorong oleh beberapa faktor, yaitu :
1.      Sumpah Pemuda 1928 merupakan faktor ideal yang memperkuat kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Yakni pada bagian ketiga yang berbunyi, “ Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeg bahasa persatoean, bahasa Indonesia ”.

2.      UUD 1945 merupakan faktor konstitusional yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Yaitu tercantum dalam Pasal 36 UUD 1945, yang tertulis bahwa, “ Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia ”.


3.      Faktor kebahasaan adalah kenyataan bahwa, bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang telah menjadi bahsa perhubungan sejak berabad-abad yang lalu.  Faktor tersebut menjadikan bahasa Indoneisa mempunyai wilayah persebaran yang lebih luas dibandingkan dengan bahasa nusantara lainnya.

4.      Bahasa Indonesia memiliki watak demokratis sebagaimana bahasa Melayu sehingga relatif lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bahasa serumpun yang memiliki tingkat tutur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

28 Kreasi Hijab Modern